Friday, June 16, 2006

Al Kun-yah

Kunyah ialah setiap nama yang di mulai baik dalam sebutan panggilan atau tulisan dengan Abu Fulan atau Abu fulanah bagi laki laki.Contoh nya seperti :Abu Abdillah(dari nama abdullah),Abu Unaisah (kun-yah nya penulis).Dan Ummu Fulan atau Ummu Fulanah bagi perempuan.Contoh seperti: Ummu Abdillah atau Ummu Unaisah.

Kunyah merupakan Sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.
Tentang Sunnah nya ber kun-yah ini sangat luas sekali di antaranya :
Pertama:Bolehnya seorang itu ber-kun-yah meskipun dia belum menikah yang dengan sendirinya belum mempunyai anak.Seperti Anas bin Malik dikun-yahkan dengan Abu Hamzah atau Abu Hurairah yang namanya Abdurrahman di kun-yah kan dengan Abu Hurairah padahal keduanya belum menikah .
Kedua : Atau seorang yg telah menikah akan tetapi belum mempunyai anak atau tidak mempunyai anak sama sekali seperti Aisyah dikun-yahkan dengan Ummu Abdillah.Padahal Aisyah tidak mempunyai anak dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.Dia dikun-yahkan dengan kemenakannya yaitu Abdullah bin Zubair anak Asma' bin Abi Bakar Ash Shiddiq.
Ketiga : Bolehnya seorang berkun-yah dengan yang bukan dengan nama anak-anaknya seperti Abu Bakar.Padahal dia tidak mempunyai anak yang bernama Bakar.Dan Umar di kun-yah kan dengan Abu Hasf padahal dia tidak mempunyai anak yang bernama Hasf.
Keempat:Boleh memberi Kun-yah kepada anak yang masih kecil berdasarkan riwayat shahih di bawah ini :
" Dari Anas,dia berkata:Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam orang yang paling baik akhlaknya.Dan aku mempunyai saudara laki-laki yg di panggil(dikun-yahkan)dengan Abu Umair -dan dia sudah di sapih-.Dan beliau apabila datang (yakni ke rumah Anas)berkata,"Ya Aba Umair,apa yang telah di perbuat oleh Nughair?"
Berkata Anas,"Nughair yang di pakai bermain oleh Abu Umair"
(Dikeluarkan oleh Bukhari di kitab Shahih-nya dan di kitabnya Adabul Mufrad,Muslim<6/177>,Abu Dawud.dan lain-lain)
Hadist yang mulia ini memberikan fawaa-id yang demikian banyak dengan mengumpulkan seluruh jalannya dan lafazh-lafazh nya sampai enam puluh faedah sebagaimana diterangkan Al Hafizh Ibnu Hajar di Al-Fath(no.6203) di antaranya ialah bolehnya memberi kun-yah kepada anak-anak yang masih kecil sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi kun-yah kepada saudara Anas yang
masih kecil dengan Abu Umair.
Kelima : Bolehnya memberi kun-yah kepada seseorang dengan sesuatu yang ada pada orang tersebut.Seperti Ali bin Abi Thalib dikun-yah kan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Abu Turab(yang artinya bapak tanah).Kejadiannyaketika Ali sedang tidur di masjid,punggung nya ketutupan tanah,lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membangunkannya sambil berkata,"Ya Abb Turab,bangunlah!".
Keenam:Bolehnya seseorang mempunyai lebih dari satu kun-yah seperti Ali,selain dia dikun-yahkan dengan Abu Turab,dia pun dikun-yahkan dengan Abu Hasan mengambil nama anaknya yang pertama yaitu Hasan
Ketujuh:Bolehnya berkun-yah dengan anak laki-laki atau anak perempuan
Kedelapan:Bolehnya berkun-yah bukan dengan nama anak tertua,akan tetapi yang telah maklum berkun-yah dengan anak tertua mengambil perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berkun-yah dengan anak tertua beliau yaitu Abdul Qasim.Dan Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Hani',"maka(kun-yah)mu adalah Abu Syuraih." Mengambil anak tertua Hani' yaitu Syuraih.
Kesembilan: Lantaran berkun-yah merupakan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kemuliaan atau penghormatan kepada orang yang dikun-yahkan ,maka tidak ada kun-yah bagi orang kafir karena tidak ada kemuliaan dan kehormatan bagi mereka kecuali mereka tidak dikenal melainkan dengan kun-yahnya.
Kesepuluh : Telah berselisih para Ulama tentang hukum berkun-yah dengan kun-yah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sesudah terjadi kesepakatan(ijma')di antara mereka tentang sunnahnya memberi nama beliau yaitu Muhammad atau Ahmad.Barangkali yang lebih mendekati kebenaran -Wallahu A'lam- 'illat(sebab) larangan beliau terbatas di masa hidup beliau agar tidak terjadi kesamaran di waktu berbicara atau memanggil.Ketika beliau telah wafat maka dengan sendirinya 'illat tersebut pun hilang.Lebih lanjut bacalah masalah ini di Fat-hul Baari'(no.6187 dan seterusnya) dan di Tuhfatul Maudud bab 8 fasal 7
Sumber : Menanti buah hati dan hadiah untuk yang dinanti
Abdul Hakim bin Amir Abdat